Gedung Kampung

Bangun pagi pada subuh hari seperti biasanya kubuka jendela kamarku yang terletak di lantai 2. Aku suka kamarku ini, hangatnya matahari terbit langsung masuk dalam kamarku tanpa terhalang apapun, pandangan mata langsung bisa melihat pemandangan tanah lapang yang ada di seberang rumah, jika sore hari tiba riuh anak anak bermain bola terkadang jika ada pasar malam datang lapangan terlihat penuh warna warni lampu. Atau jika aku sulit tidur malam lampu menara tower yang menyala merah dan berkedip menjadi ‘domba domba hitunganku’ semua bisa terlihat dari jendela kamar dan balkon rumahku

Namun sekarang tak ada lagi pandangan ke tanah lapang, tak ada lagi terdengar riuh anak anak bermain bola,tak ada lagi warna warni lampu pasar malam keliling dan hiruk pikuknya dan. Tak ada lagi ‘domba hitungan’.
Semua tertutup dinding pembangunan gedung lantai 5 sebuah kantor TVkabel lokal  tak hanya gedung mereka juga berencana  membuat rumah sebagai sarang Burung Walet.

Kampungku rasanya semakin sesak.
Terbayang bagaimana nantinya jika gedung dan rumah sarang burung walet itu jadi dan beroperasi atau bagaimana jalan jalan kampung yang hanya bisa di lalui satu mobil dan 1 motor ini sesak oleh kendaraan kantor yang hilir mudik. bagaimana ributnya suara suara walet dan limbahnya.
Dan bagaimana jika sewaktu waktu gedung itu roboh atau ambruk dan menimpa perumahan di sekitarnya yang hanya berjarak dinding cuman sejengkal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s