Setapak Rinjani 2 ( Selamat datang di Rinjani )

 

di dalam Truk pengantarkawan pendaki gagah jelitaBersama kawan para Pendaki Gagah Jelita🙂

Minggu 25 mei 2014 Hari masih muda, Matahari masih terpejam, dingin nya malam masih terasa dipermukaan. Namun saya sudah berada di bak truk pengangkut bersama 20 orang kawan pendaki, beserta tumpukan tas keril yang sudah menggunung di sudut bak. Selama beberapa jam, tubuh kami diayun roda truk yang terus melaju melalui jalan berkelok, naik turun menuju Desa Sembalun, walau berdesakan dan sedikit mual, hati saya berdesir ketika melihat indahnya anjungan Dewi Anjani yang megah dipayungi langit. Dari kejauhan tak bosannya saya menatap dan berucap Alhamdullilah. Ibarat Dewi Anjani menyapa, selamat datang di Rinjani.

Gunung Rinjani mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok bagian utara. untuk jalur pendakiannya terdiri dari 3 jalur, yaitu Sembalun, Senaru dan Torean. Semuanya memiliki kelebihan medan yang luar biasa. Waktu tempuh menuju puncak pun bervariasi. Dalam pendakian ini kami mulai melalui pintu Sembalun dan diakhiri di pintu Senaru. Bagi para pendaki yang tidak ingin repot membawa barang bawaannya, di sini disediakan jasa porter, saya dan tim menggunakan jasa porter untuk mengurangi beban bawaan kelompok, Untuk jasa porter perhari sekitar 150.000 rupiah.

Setelah sarapan dan memindahkan logistik dan tenda ke porter.Pukul 08.00 pagi kami memulai start trekking ke pos 1 (1300 mdpl). Jalur masih landai, kiri kanan masih didominasi kebun dan kandang ternak milik penduduk, saya pun mulai mengatur napas. Jalan yang kami lalui semakin menanjak panas dan panjang, sepanjang jalur Sembalun terlihat keindahan alam Rinjani yang dihiasi padang savana tak berujung, tidak banyak memang pohon yang tumbuh, sehingga membuat matahari bebas memancarkan terik sinarnya dan semilir lembut angin gunung sejenak memberikan nuansa sejuk membelai tengkuk.

Di pos satu ini sudah terlihat banyak sekali pendaki yang beristirahat tak hanya pendaki lokal saja, turis asing pun juga ikut berbaur di dalamnya. Menurut porter yang membawa barang kami, turis asing di sini kebanyakan berasal dari Eropa khususnya Perancis, sedikit sekali dari Asia. Saya pun tidak lama-lama beristirahat, setelah meneguk air dan mengunyah beberapa buah Kurma untuk menghindari dehidrasi, saya pun melanjutkan perjalanan. Mengingat pos 3 masih jauh di depan, dengan perkiraan waktu 3-4 jam perjalanan. Beberapa porter lincah mendahului kami dengan sendal jepit tipis di kaki- kaki mereka.

Kaki saya mulai lelah dan pelan melangkah, seorang porter dengan beban sarat di pundak lewat dan berucap sambil tersenyum “jangan terlalu banyak berhenti, terus jalan saja walau pelan tapi pasti “.

tanjakan

Senin 26 mei 2014, setelah mempersiapkan energi fisik, sekitar pukul 7 pagi kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun (2639 mdpl). Menurut cerita beberapa pendaki dan porter, jalur menuju Plawangan Sembalun nanti akan melewati bukit penyiksaan, dari namanya saja sudah mengerikan. Perlahan namun pasti kaki ini melangkah melalui bukit-bukit yang terjal dengan tanjakan seperti tak ada habisnya, apalagi disertai debu dari kaki-kaki para pendaki lain yang bisa mengganggu mata dan pernapasan, dari sinilah kegunaan masker/ruff  diperlukan untuk menghindari debu masuk ke pernafasan. Kepulan debu dan jalan yang menanjak tak berujung kembali membuat kaki saya lelah melangkah, namun selalu ada saja pendaki lain yang memberi semangat dan uluran tangannya.

Di tengah perjalanan ketika saya beristirahat sejenak di bawah rimbun nya pohon, tiba-tiba 2 ekor kambing lewat tepat di depan kami, ternyata kambing yang dibawa oleh seorang porter dari kelompok pendaki lain tersebut rupanya akan disembelih di Plawangan. hmm.. Lidah pun serasa mengecap manis membayangkan.

Sampai di Plawangan Sembalun, cuaca sedikit mendung, gerimis tipis cukup membasahi sebagian tubuh kami, untunglah itu tidak berlangsung lama dan cuaca pun kembali cerah. Mulai terlihat jajaran indah awan Plawangan Sembalun, rimbunnya bunga Edelweis yang menari tertiup hembusan angin gunung dan monyet-monyet liar yang nikmat menyantap ransum pendaki yang lengah.

Suasana pada saat itu sangat padat dan hampir tidak ada ruang untuk mendirikan tenda, beberapa kawan dari tim yang tiba duluan, mencari tenda yang didirikan oleh porter, dengan menyisir setiap tempat, karena didera lelah salah satu kawan saya, Yoga hampir saja meyeret tali toilet darurat milik pendaki lain, memang di sini terdapat toilet darurat, jangan dibayang kan toilet disini seperti toilet di rumah, hanya tanah yang digali dalam untuk lubang pembuangan.

Akhirnya salah seorang porter, Arjuna menjemput kami untuk memberitahu lokasi dimana tenda kami didirikan, sesampainya di lokasi, saya dan kawan langsung masuk kedalam tenda untuk beristirahat dan makan malam guna mempersiapkan pendakian. Sebelum tidur peralatan seperti  raincoat, headlamp,termos minum, jaket, obat-obatan dan sedikit camilan saya masukan kedalam tas ransel kecil. Agar tidak ribet mencari ketika pendakian dimulai tengah malam nanti.

Tengah malam, kami dibangunkan oleh kordinator lapangan untuk persiapan pendakian menuju puncak Rinjani. Diluar tenda, sudah terlihat cahaya-cahaya kecil dari lampu senter para pendaki yang berbaris menuju jalur puncak Rinjani. Tepat Pukul setengah satu dini hari.

next- menapak puncak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s